Awalnya ini terfikir saat mendengar lagu "kupu2 malamnya" titiek puspa, nada dan liriknya indah. Tapi jika kita cermati, terasa ada kesalahan dalam tertib berfikirnya. Diceritakan ttg derita seorang pelacur. Betapa ia dicaci dan dicela. Pada akhir lagu disampaikan semua itu dengan dalih "menyambung nyawa"... Kayaknya sih memang biasa saja... Tapi apa ya boleh seperti itu? logika yang kita pakai, kita harus bebaskan dulu dari miskin dan rasa lapar, baru bicarakan "iman". Lho, padahal betapa banyak sahabat rosul dulu yg demikian miskin namun tetap teguh memegang keyakinan mereka. Bilal bin rabbah misalnya, dia seorang budak yg itu berarti seorang yg ada dalam puncak kemiskinan, karena bahkan dirinya pun tidak dia miliki. Namun ia teguh menjaga keimanannya....
Mungkin, kita harus mendudukan masalah2 sosial kita dg cara pandang seperti ini: mulailah dengan iman, baru kita melangkah menyelesaikannya. Karena dalam Islam telah banyak disediakan sarana2 penyelesaian masalah2 sosial. Mekanisme zakat, infaq, shodaqoh dan wakaf misalnya. Jadi jangan dibaca terbalik, kenyang dulu baru bicara iman. Yg lebih parah, seringkali ada yg bilang: "jangankan yang halal, yang haram aja susah dapatnya"
wallohu a'lam.
Senin, 17 Januari 2011
Marotibul Fikri (tentang tertib berfikir)
Ini adalah tulisan seputar "cara pandang" kita terhadap sesuatu.
Latar belakangnya adalah bahwa: cara yang salah dalam memandang sesuatu bisa jadi mengubah arah dan tujuan sesuatu itu dilakukan. Contoh yang terfikirkan olehku saat ini adalah: cara pandang kita terhadap politik dan dakwah.
hmm... ini menjadi tema yang sensitif. Hehe, jadi khawatir aku terjebak pada percakapan batin yang keliru, namun ini juga bagian pemikiran yang telah melalui proses endapan dalam hati; jadi rasanya sudah siap di-dhahirkan dalam satu tulisan.
Dalam khasanah berfikir khas "tarbiyah", bahwa politik adalah bagian dari cara dakwah. Artinya, aktifitas politik adalah salah satu sarana yang dapat kita pilih sebagai salah satu cara ber-dakwah. Karena dakwah dalam pengertian yang luas adalah langkah beranjak dari "kegelapan" ke terangnya "cahaya"; dari kemiskinan ke kesejahteraan; dari kebodohan menuju ke masyarakat yang cerdas; dari kebiadaban menuju ke keberadaban... dan sebagainya.
Maka politik menjadi langkah yang sangat masuk akal, karena dengan aktifitas politik-lah kemiskinan itu dapat ditumpas, kebodohan itu dapat dilawan, dan kebiadaban bangsa itu dapat dilenyapkan; diganti dengan kesejahteraan, kecerdasan, dan keberadaban.
Aktifitas para pekerja dakwah yang juga aktifis politik, sering kali teruji dalam satu kondisi yang terdistorsi dalam dua sisi ini [politik dan dakwah]. Idealnya sih tidak ada masalah; kalau memang dapat kita dudukan secara proporsional. Namun kenyataannya, ada masalah di sini. Buktinya, banyak kesalahan-kesalahan informasi, berkembang biaknya sangkaan di antara sesama pekerja dakwah.
Penulis tidak ingin terjebak pada sekedar men-diskripsikan masalah ini, tanpa memberikan satu solusi, hingga yang terjadi justru... tulisan ini menimbulkan masalah-masalah baru. Na'udzubillahi min dzalik...
Bisa jadi, akar masalahnya adalah tidak tertibnya rukun berfikir kita [boleh dibaca: marotibul fikri]. Untuk kasus di atas, tertib berfikirnya adalah sebagai berikut: bahwa dakwah adalah tujuan, dan aktifitas politik adalah sarana yang dipilih. Konsentrasi kita pada tujuan kita, yaitu Dakwah. Ini adalah niat, motivasi, juga narasi besar kita dalam segala aktifitas kebaikan yang akan kita lakukan. Sedangkan aktifitas politik adalah salah satu sarana yang kita pilih. Fokus pada kata "sarana"; politik adalah sekedar sarana. Sehingga, cara berfikir kita inilah yang mewarnai seluruh aktifitas dakwah kita, juga aktifitas politik kita [jika diperkenankan dua hal ini dijadikan satu "dikotomi"].
Apa yang perlu dilakukan? Kita perlu lakukan "evaluasi", terhadap seluruh aktifitas kebaikan kita. Sudahkah sesuai dengan marotibul fikri kita? Jangan-jangan kita sudah terjebak; secara teori kita katakan bahwa kita sedang berdakwah lewat politik, namun dalam gerak hati kita, bergumam dengan mantab bahwa: ini adalah langkah-langkah politik kita melalui jalan dakwah yang telah kita pilih. Khawatir saja, ternyata telah lahir cita-cita baru dalam dada ini, mimpi-mimpi baru, tujuan-tujuan baru... untuk sekedar sukses di kancah politik ini...
Cara pandang kita terhadap dua hal ini [politik dan dakwah] terkesan sederhana saja, namun hati-hati... salah meletakkan tata urutannya, bisa mengubah secara drastis arah perjuangan kita; dan yang lebih mengerikan adalah terurainya jalinan ukhuwah yang selama ini begitu kokoh dan disegani oleh seluruh penduduk bumi ini...
Wallohu a'lam.
Latar belakangnya adalah bahwa: cara yang salah dalam memandang sesuatu bisa jadi mengubah arah dan tujuan sesuatu itu dilakukan. Contoh yang terfikirkan olehku saat ini adalah: cara pandang kita terhadap politik dan dakwah.
hmm... ini menjadi tema yang sensitif. Hehe, jadi khawatir aku terjebak pada percakapan batin yang keliru, namun ini juga bagian pemikiran yang telah melalui proses endapan dalam hati; jadi rasanya sudah siap di-dhahirkan dalam satu tulisan.
Dalam khasanah berfikir khas "tarbiyah", bahwa politik adalah bagian dari cara dakwah. Artinya, aktifitas politik adalah salah satu sarana yang dapat kita pilih sebagai salah satu cara ber-dakwah. Karena dakwah dalam pengertian yang luas adalah langkah beranjak dari "kegelapan" ke terangnya "cahaya"; dari kemiskinan ke kesejahteraan; dari kebodohan menuju ke masyarakat yang cerdas; dari kebiadaban menuju ke keberadaban... dan sebagainya.
Maka politik menjadi langkah yang sangat masuk akal, karena dengan aktifitas politik-lah kemiskinan itu dapat ditumpas, kebodohan itu dapat dilawan, dan kebiadaban bangsa itu dapat dilenyapkan; diganti dengan kesejahteraan, kecerdasan, dan keberadaban.
Aktifitas para pekerja dakwah yang juga aktifis politik, sering kali teruji dalam satu kondisi yang terdistorsi dalam dua sisi ini [politik dan dakwah]. Idealnya sih tidak ada masalah; kalau memang dapat kita dudukan secara proporsional. Namun kenyataannya, ada masalah di sini. Buktinya, banyak kesalahan-kesalahan informasi, berkembang biaknya sangkaan di antara sesama pekerja dakwah.
Penulis tidak ingin terjebak pada sekedar men-diskripsikan masalah ini, tanpa memberikan satu solusi, hingga yang terjadi justru... tulisan ini menimbulkan masalah-masalah baru. Na'udzubillahi min dzalik...
Bisa jadi, akar masalahnya adalah tidak tertibnya rukun berfikir kita [boleh dibaca: marotibul fikri]. Untuk kasus di atas, tertib berfikirnya adalah sebagai berikut: bahwa dakwah adalah tujuan, dan aktifitas politik adalah sarana yang dipilih. Konsentrasi kita pada tujuan kita, yaitu Dakwah. Ini adalah niat, motivasi, juga narasi besar kita dalam segala aktifitas kebaikan yang akan kita lakukan. Sedangkan aktifitas politik adalah salah satu sarana yang kita pilih. Fokus pada kata "sarana"; politik adalah sekedar sarana. Sehingga, cara berfikir kita inilah yang mewarnai seluruh aktifitas dakwah kita, juga aktifitas politik kita [jika diperkenankan dua hal ini dijadikan satu "dikotomi"].
Apa yang perlu dilakukan? Kita perlu lakukan "evaluasi", terhadap seluruh aktifitas kebaikan kita. Sudahkah sesuai dengan marotibul fikri kita? Jangan-jangan kita sudah terjebak; secara teori kita katakan bahwa kita sedang berdakwah lewat politik, namun dalam gerak hati kita, bergumam dengan mantab bahwa: ini adalah langkah-langkah politik kita melalui jalan dakwah yang telah kita pilih. Khawatir saja, ternyata telah lahir cita-cita baru dalam dada ini, mimpi-mimpi baru, tujuan-tujuan baru... untuk sekedar sukses di kancah politik ini...
Cara pandang kita terhadap dua hal ini [politik dan dakwah] terkesan sederhana saja, namun hati-hati... salah meletakkan tata urutannya, bisa mengubah secara drastis arah perjuangan kita; dan yang lebih mengerikan adalah terurainya jalinan ukhuwah yang selama ini begitu kokoh dan disegani oleh seluruh penduduk bumi ini...
Wallohu a'lam.
Kamis, 07 Oktober 2010
Halal Bihalal PKS Bantar Gebang
DPC PKS Bantar Gebang mengadakan Halal Bihalal 1431 H kader dan simpatisan di lapangan RT 4/3 Cikiwul.
Acara dibuka oleh MC Nashirun. Kemudian dibacakan tilawah oleh Junaedi. Sambutan pertama oleh Ketua Panitia, Vicky Suprayogi. Dalam sambutannya terutama beliau mengharapkan agar kaum muslimin saling bersilaturahmi, apalagi ini merupakan bulan Syawal. Jadi apabila PKS mengundang partai lain, atau organisasi lain seyogyanya mereka menghadiri undangan tersebut. Demikian sebaliknya. Dan silaturahim itu tidak sebatas hanya di bulan Syawal saja tapi juga bulan lainnya. Karena Rasulullah pernah bersabda bahwa menghadiri undangan hajatan dari saudaranya sesama muslim adalah wajib. Apabila seluruh kaum muslimin melaksanakan hadits tersebut insya Allah umat Islam akan bersatu dan kuat.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua RW 3 Cikiwul, yang mengharapkan pada Halal Bihalal ini dapat menyampaikan aspirasi kepada para anggota Dewan.
Acara diselingi oleh hiburan Marawis dari Musholla Al-Amanah, Cikiwul.
Acara selanjutnya, orasi dari Ustadz Rinto Andrianto, SPdI Anggota DPRD Kota Bekasi dari Dappil VI. Dalam orasinya, beliau mengatakan bahwa insiden di Ciketing murni ketidaksengajaan. Dan beliau menyampaikan bahwa fraksi PKS telah berupaya maksimal dalam menyelesaikan masalah ini dengan mengajak berdialog pihak-pihak yang berkepentingan.
Acara inti, Tausiyah dari Ustadz Mahfudz Siddiq, MSi, Ketua Komisi I DPR RI. Inti dari tausiyahnya, pertama, bahwa Rasulullah sebagai kepala negara pernah memerintahkan menghancurkan Mesjid Dhirar, yang tujuan didirikannya oleh kaum munafik bukan murni untuk beribadah, tapi merongrong kekhalifahan umat islam, memecah belah umat. Karena Rasul sebagai kepala negara pada waktu itu, maka masalah langsung selesai dengan mudah. Apalagi kalau ada bangunan lain yang jelas-jelas merusak aqidah umat Islam.
Yang kedua, Umat Islam cinta akan persahabatan, di dalam Quran surat Al-Hujurat : 13, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Dan kalau umat Islam menjalankan ajarannya, atau syariat, justru akan memperkuat NKRI. Justru kalo ada muslim yang tidak taat dengan ajaran Islam malah akan membahayakan NKRI.
Acara selanjutnya Door Price, pemenangnya dengan cara diundi. Jumlah pemenang yang mendapatkan Door Price ada sekitar 20-an. Door Price yang hadiahnya berasal dari seluruh kader ini dipandu oleh Ibu Yayu, istri Ustadz Rinto Andrianto.
Terakhir, acara ditutup oleh Ustadz Muhamad Toha, Ketua DKM Mesjid RW 03. Saat ini beliau alhamdulillah berhasil merintis lembaga pendidikan Iqro yang khusus mengajarkan iqro kepada anggotanya. Jumlah anggotanya sudah mencapai 50-an di sekitar Cikiwul, subhanallah.
Acara dibuka oleh MC Nashirun. Kemudian dibacakan tilawah oleh Junaedi. Sambutan pertama oleh Ketua Panitia, Vicky Suprayogi. Dalam sambutannya terutama beliau mengharapkan agar kaum muslimin saling bersilaturahmi, apalagi ini merupakan bulan Syawal. Jadi apabila PKS mengundang partai lain, atau organisasi lain seyogyanya mereka menghadiri undangan tersebut. Demikian sebaliknya. Dan silaturahim itu tidak sebatas hanya di bulan Syawal saja tapi juga bulan lainnya. Karena Rasulullah pernah bersabda bahwa menghadiri undangan hajatan dari saudaranya sesama muslim adalah wajib. Apabila seluruh kaum muslimin melaksanakan hadits tersebut insya Allah umat Islam akan bersatu dan kuat.
Sambutan kedua disampaikan oleh Ketua RW 3 Cikiwul, yang mengharapkan pada Halal Bihalal ini dapat menyampaikan aspirasi kepada para anggota Dewan.
Acara diselingi oleh hiburan Marawis dari Musholla Al-Amanah, Cikiwul.
Acara selanjutnya, orasi dari Ustadz Rinto Andrianto, SPdI Anggota DPRD Kota Bekasi dari Dappil VI. Dalam orasinya, beliau mengatakan bahwa insiden di Ciketing murni ketidaksengajaan. Dan beliau menyampaikan bahwa fraksi PKS telah berupaya maksimal dalam menyelesaikan masalah ini dengan mengajak berdialog pihak-pihak yang berkepentingan.
Acara inti, Tausiyah dari Ustadz Mahfudz Siddiq, MSi, Ketua Komisi I DPR RI. Inti dari tausiyahnya, pertama, bahwa Rasulullah sebagai kepala negara pernah memerintahkan menghancurkan Mesjid Dhirar, yang tujuan didirikannya oleh kaum munafik bukan murni untuk beribadah, tapi merongrong kekhalifahan umat islam, memecah belah umat. Karena Rasul sebagai kepala negara pada waktu itu, maka masalah langsung selesai dengan mudah. Apalagi kalau ada bangunan lain yang jelas-jelas merusak aqidah umat Islam.
Yang kedua, Umat Islam cinta akan persahabatan, di dalam Quran surat Al-Hujurat : 13, "Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."
Dan kalau umat Islam menjalankan ajarannya, atau syariat, justru akan memperkuat NKRI. Justru kalo ada muslim yang tidak taat dengan ajaran Islam malah akan membahayakan NKRI.
Acara selanjutnya Door Price, pemenangnya dengan cara diundi. Jumlah pemenang yang mendapatkan Door Price ada sekitar 20-an. Door Price yang hadiahnya berasal dari seluruh kader ini dipandu oleh Ibu Yayu, istri Ustadz Rinto Andrianto.
Terakhir, acara ditutup oleh Ustadz Muhamad Toha, Ketua DKM Mesjid RW 03. Saat ini beliau alhamdulillah berhasil merintis lembaga pendidikan Iqro yang khusus mengajarkan iqro kepada anggotanya. Jumlah anggotanya sudah mencapai 50-an di sekitar Cikiwul, subhanallah.
Langganan:
Postingan (Atom)